Mendaki gunung sendirian untuk pertama kali bukanlah keputusan yang mudah. Banyak orang mungkin berpikir aku gila, nekat, atau sedang lari dari sesuatu. Tapi sebenarnya, keinginan itu muncul bukan karena pelarian, melainkan karena pencarian. Aku ingin mengenal diriku sendiri lebih dalam, dan aku merasa tidak ada tempat yang lebih jujur dari alam. Gunung memaksa kita untuk menghadapi diri sendiri, tanpa topeng, tanpa kepura-puraan, hanya ada antara manusia dan semesta. Dan di situlah perjalananku dimulai.
Awalnya, aku tidak punya pengalaman mendaki sama sekali. Aku hanya sering melihat foto-foto di media sosial, membaca cerita tentang pendakian, dan merasa tertarik dengan ketenangan di puncak yang mereka ceritakan. Namun keinginan itu baru benar-benar aku wujudkan ketika aku sedang dalam fase hidup yang membingungkan. Aku merasa jenuh dengan rutinitas, lelah dengan tekanan, dan kehilangan arah. Saat itu, mendaki gunung terasa seperti panggilan untuk menantang diriku sendiri, untuk membuktikan bahwa aku masih punya keberanian menjalani sesuatu yang benar-benar baru.
Persiapan dilakukan dengan seadanya tapi penuh semangat. Aku membaca banyak artikel tentang perlengkapan dasar, teknik mendaki, dan cara bertahan di alam terbuka. Aku membeli sepatu gunung bekas, jaket tebal, senter kepala, dan peralatan kecil lainnya. Aku tahu aku bukan pendaki profesional, tapi aku ingin belajar dengan cara yang paling jujur: dengan mengalaminya langsung. Banyak orang menyarankan agar aku tidak mendaki sendirian, tapi ada suara kecil di dalam hati yang terus berkata, “Kamu harus melakukannya sendiri kali ini.”
Hari keberangkatan tiba. Perjalanan menuju kaki gunung terasa campur aduk antara gugup dan antusias. Udara pagi terasa segar, dan kabut tipis menyelimuti jalan. Saat aku mulai melangkahkan kaki ke jalur pendakian, ada rasa kecil di dada yang sulit dijelaskan: campuran antara takut dan bebas. Setiap langkah awal terasa berat, bukan karena medan, tapi karena beban pikiran yang kubawa. Aku berjalan perlahan, mendengarkan napas sendiri, mendengar suara daun bergesekan, dan sesekali suara burung dari kejauhan.
Setiap meter yang kulalui seperti berbicara padaku. Alam seakan punya bahasa sendiri yang lembut tapi tegas. Ia tidak pernah berteriak, tapi setiap hembusan anginnya seperti mengatakan, “Tenanglah, nikmati saja perjalananmu.” Di titik-titik tertentu aku berhenti, bukan karena lelah, tapi untuk sekadar merasakan. Aku menatap pepohonan tinggi yang seolah melindungi dari panas matahari, mendengar gemericik air kecil di antara bebatuan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama aku merasa damai. Tidak ada notifikasi, tidak ada suara kendaraan, tidak ada tuntutan. Hanya aku, tanah, udara, dan langit.
Namun tentu tidak semua bagian pendakian terasa indah. Ada saat di mana aku benar-benar merasa ingin menyerah. Jalur mulai menanjak tajam, punggung terasa berat, dan napas mulai tersengal. Aku sempat berpikir, “Kenapa aku melakukan ini sendirian?” Tapi kemudian aku ingat, alasan aku mendaki bukan untuk membuktikan apa-apa pada siapa pun, melainkan untuk menemukan keberanian dalam diriku sendiri. Maka aku berhenti sebentar, meneguk air, menarik napas panjang, dan melanjutkan langkah kecil demi langkah kecil. Setiap langkah terasa seperti kemenangan kecil, dan setiap napas menjadi pengingat bahwa aku masih hidup, masih berjuang.
Saat senja tiba, aku mulai mencari tempat untuk beristirahat. Langit mulai berubah warna, jingga bercampur ungu, dan udara terasa dingin menusuk kulit. Aku mendirikan tenda kecil yang kupinjam dari teman. Di depan tenda, aku menyalakan api unggun kecil, memasak mi instan sederhana, dan menatap langit yang perlahan dipenuhi bintang. Saat itu, keheningan terasa luar biasa. Tidak ada siapa-siapa, tapi aku tidak merasa sendiri. Aku justru merasa lebih dekat dengan diriku sendiri daripada sebelumnya. Dalam kesunyian malam itu, aku sadar bahwa ketenangan tidak perlu dicari di luar; ia selalu ada di dalam diri, hanya perlu waktu untuk ditemukan.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dan melanjutkan perjalanan menuju puncak. Jalur semakin menantang, tapi semangatku justru semakin kuat. Aku tidak lagi memikirkan kapan akan sampai, karena setiap langkah sudah menjadi tujuan itu sendiri. Saat akhirnya aku mencapai puncak, aku tidak berteriak atau meloncat kegirangan seperti yang sering kulihat di media sosial. Aku hanya berdiri diam, memandangi lautan awan di bawah kakiku, dan tersenyum. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Semua rasa takut, lelah, dan kesepian selama perjalanan tiba-tiba terasa sepadan dengan momen itu.
Di atas sana, aku belajar banyak hal. Aku belajar bahwa hidup itu seperti mendaki gunung: tidak selalu mudah, kadang terasa berat, kadang ingin berhenti, tapi setiap langkah yang diambil pasti membawamu lebih tinggi. Aku juga belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tapi tetap melangkah meskipun takut. Aku menyadari bahwa selama ini aku terlalu sibuk mencari pengakuan, padahal kebahagiaan sejati datang ketika kita bisa berdamai dengan diri sendiri. Mendaki gunung sendirian mengajarkanku untuk percaya pada proses, untuk menikmati perjalanan tanpa terburu-buru sampai.
Ketika turun, aku membawa sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun: rasa tenang yang baru. Aku bukan lagi orang yang sama seperti ketika aku mulai mendaki. Aku pulang dengan pandangan yang lebih luas tentang hidup. Aku tidak lagi takut menghadapi kesepian, karena aku tahu, di kesepian itulah kita benar-benar mengenal siapa diri kita sebenarnya. Aku juga belajar bahwa kita tidak perlu menunggu momen besar untuk berubah; kadang perubahan terbesar datang dari keputusan sederhana — seperti berani melangkah sendirian.
Setiap kali aku mengingat perjalanan itu, aku selalu merasa bersyukur. Gunung mengajarkan banyak hal tanpa berkata apa-apa. Ia menunjukkan bahwa hal-hal besar tidak selalu tampak megah; kadang kebahagiaan sejati justru muncul di tengah keheningan, di bawah langit luas yang tidak meminta apa-apa darimu selain kesungguhan. Pengalaman mendaki gunung sendiri untuk pertama kali bukan sekadar petualangan fisik, tapi perjalanan spiritual. Aku belajar bahwa tidak ada perjalanan yang sia-sia selama kita berjalan dengan hati terbuka.
Kini, setiap kali hidup terasa berat, aku selalu mengingat langkah-langkahku di jalur pendakian itu. Aku ingat betapa sulitnya menapaki jalan terjal, tapi juga betapa indahnya pemandangan di puncak. Hidup mungkin tidak selalu mudah, tapi selama kita terus melangkah, akan selalu ada cahaya di ujung perjalanan. Dan seperti gunung yang selalu berdiri megah di kejauhan, aku pun belajar untuk tetap kokoh menghadapi apapun yang datang, sambil tetap rendah hati seperti bumi yang kupijak saat mendaki.
Pengalaman itu mungkin sudah lama berlalu, tapi kenangannya tidak pernah pudar. Ia menjadi bagian dari diriku — pengingat bahwa keberanian tidak lahir dari kekuatan, tapi dari tekad. Bahwa kesendirian bukan kutukan, tapi kesempatan untuk menemukan diri sendiri. Dan bahwa setiap orang, dalam hidupnya, setidaknya sekali harus melakukan perjalanan sendirian, agar tahu betapa kuatnya dirinya sebenarnya.
